SALINAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 79 TAHUN 2014
TENTANG
MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 77N
ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
- Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32
Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5410);
- Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan
Organisasi Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 13 Tahun 2014;
- Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata kerja Kementerian Negara Republik
Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014;
- Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 mengenai Pembentukan
Kabinet Indonesia Bersatu II sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 54/P Tahun 2014;
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013
tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah;
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah;
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah;
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah;
- Peraturan Menteri Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah;
- Peraturan Menteri Nomor 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah;
- Peraturan Menteri Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah;
- Peraturan Menteri Nomor 60 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013.
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
- Muatan lokal adalah bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan
pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi
dan keunikan lokal.
- Satuan pendidikan adalah Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI),
Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah
Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah
Aliyah Kejuruan (SMK/MAK).
Pasal 2
- Muatan lokal merupakan bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan
pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi
dan keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta
didik terhadap keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya.
- Muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan dengan
tujuan membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang diperlukan untuk:
- mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual di daerahnya; dan
- melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang
berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan
nasional.
Pasal 3
Muatan lokal dikembangkan atas prinsip:
- kesesuaian dengan perkembangan peserta didik;
- keutuhan kompetensi;
- fleksibilitas jenis, bentuk, dan pengaturan waktu penyelenggaraan; dan
- kebermanfaatan untuk kepentingan nasional dan menghadapi tantangan glo
Pasal 4
- Muatan lokal dapat berupa antara lain:
- seni budaya,
- prakarya,
- pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan,
- bahasa, dan/atau
- Muatan pembelajaran terkait muatan lokal berupa bahan kajian terhadap keunggulan dan kearifan daerah tempat tinggalnya.
- Muatan pembelajaran terkait muatan lokal sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diintegrasikan antara lain dalam mata pelajaran seni budaya,
prakarya, dan/atau pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.
- Dalam hal pengintegrasian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak
dapat dilakukan, muatan pembelajaran terkait muatan lokal dapat
dijadikan mata pelajaran yang berdiri sendiri.
Pasal 5
Muatan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dirumuskan dalam bentuk dokumen yang terdiri atas:
- kompetensi dasar;
- silabus; dan
- buku teks pelajaran.
Pasal 6
Muatan lokal dikembangkan dengan tahapan:
- analisis konteks lingkungan alam, sosial, dan/atau budaya;
- identifikasi muatan lokal;
- perumusan kompetensi dasar untuk setiap jenis muatan lokal;
- penentuan tingkat satuan pendidikan yang sesuai untuk setiap kompetensi dasar;
- pengintegrasian kompetensi dasar ke dalam muatan pembelajaran yang relevan;
- penetapan muatan lokal sebagai bagian dari muatan pembelajaran atau menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri;
- penyusunan silabus; dan
- penyusunan buku teks pelajaran.
Pasal 7
- Satuan pendidikan dapat mengajukan usulan muatan lokal berdasarkan
hasil analisis konteks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a dan
identifikasi muatan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b
kepada pemerintah kabupaten/kota.
- Pemerintah kabupaten/kota melakukan:
- analisis dan identifikasi terhadap usulan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
- perumusan kompetensi dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c; dan
- penentuan tingkat satuan pendidikan yang sesuai untuk setiap kompetensi dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d.
- Pemerintah kabupaten/kota menetapkan muatan lokal sebagai bagian
dari muatan pembelajaran atau menjadi mata pelajaran yang berdiri
sendiri.
- Pemerintah kabupaten/kota mengusulkan hasil penetapan muatan lokal
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada pemerintah provinsi.
- Pemerintah provinsi menetapkan muatan lokal yang diusulkan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk diberlakukan di wilayahnya.
- Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan
kewenangannya merumuskan kompetensi dasar, penyusunan silabus, dan
penyusunan buku teks pelajaran muatan lokal.
- Dalam hal satuan pendidikan tidak mengajukan usulan muatan lokal
pemerintah daerah dapat menetapkan sesuai dengan kebutuhan daerahnya.
Pasal 8
- Muatan lokal diselenggarakan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan sumber daya pendidikan yang tersedia.
- Dalam hal muatan lokal ditetapkan sebagai mata pelajaran yang
berdiri sendiri, satuan pendidikan dapat menambah beban belajar muatan
lokal paling banyak 2 (dua) jam per minggu.
- Kebutuhan sumber daya pendidikan sebagai implikasi penambahan beban
belajar muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditanggung oleh
pemerintah daerah yang menetapkan.
Pasal 9
Pelaksanaan muatan lokal pada satuan pendidikan perlu didukung dengan:
- kebijakan Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan satuan pendidikan sesuai kewenangannya; dan
- ketersediaan sumber daya pendidikan yang dibutuhkan.
Pasal 10
- Pengembangan muatan lokal oleh satuan pendidikan dilakukan oleh tim
pengembang Kurikulum di satuan pendidikan dengan melibatkan unsur komite
sekolah/madrasah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait.
- Pengembangan muatan lokal oleh daerah dilakukan oleh Tim Pengembang
Kurikulum provinsi, Tim Pengembang Kurikulum kabupaten/kota, tim
pengembang Kurikulum di satuan pendidikan, dan dapat melibatkan nara
sumber serta pihak lain yang terkait.
- Pengembangan muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) mengacu pada tahapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.
- Pengembangan muatan lokal dikoordinasikan dan disupervisi oleh dinas
pendidikan atau kantor kementerian agama provinsi dan kabupaten/kota
sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 11
Dengan berlakunya Peraturan
Menteri ini, ketentuan dalam Peraturan Menteri Nomor 81A Tahun 2013
tentang Implementasi Kurikulum yang mengatur mengenai Muatan Lokal
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 12
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 14 Agustus 2014
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA,
TTD.
MOHAMMAD NUH
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 Agustus 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
TTD.
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 1172
Salinan sesuai dengan aslinya.
Kepala Biro Hukum dan Organisasi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Ani Nurdiani Azizah
NIP 195812011986032001