Selasa, 18 November 2014

masalah dapodikdas silahkan masuk andhin.net

Peraturan Baru tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013 (Permendikbud No. 79 Tahun 2014)

SALINAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 79 TAHUN 2014
TENTANG
MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang  :   bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 77N ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013;

Mengingat    :
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
  1. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410);
  2. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014;
  3. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014;
  4. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 54/P Tahun 2014;
  5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah;
  6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah;
  7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah;
  8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah;
  9. Peraturan Menteri Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah;
  10. Peraturan Menteri Nomor 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah;
  11. Peraturan Menteri Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah;
  12. Peraturan Menteri Nomor 60 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan   :   PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013.
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
  1. Muatan lokal adalah bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal.
  2. Satuan pendidikan adalah Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK).

Pasal 2
  • Muatan lokal merupakan bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya.
  • Muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan dengan tujuan membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk:
  1. mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual di daerahnya; dan
  2. melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Pasal 3
Muatan lokal dikembangkan atas prinsip:
  1. kesesuaian dengan perkembangan peserta didik;
  2. keutuhan kompetensi;
  3. fleksibilitas jenis, bentuk, dan pengaturan waktu penyelenggaraan; dan
  4. kebermanfaatan untuk kepentingan nasional dan menghadapi tantangan glo

Pasal 4
  • Muatan lokal dapat berupa antara lain:
    1. seni budaya,
    2. prakarya,
    3. pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan,
    4. bahasa, dan/atau

  • Muatan pembelajaran terkait muatan lokal berupa bahan kajian terhadap keunggulan dan kearifan daerah tempat tinggalnya.
  • Muatan pembelajaran terkait muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diintegrasikan antara lain dalam mata pelajaran seni budaya, prakarya, dan/atau pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.
  • Dalam hal pengintegrasian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat dilakukan, muatan pembelajaran terkait muatan lokal dapat dijadikan mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Pasal 5
Muatan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dirumuskan dalam bentuk dokumen yang terdiri atas:
  1. kompetensi dasar;
  2. silabus; dan
  3. buku teks pelajaran.

Pasal 6
Muatan lokal dikembangkan dengan tahapan:
  1. analisis konteks lingkungan alam, sosial, dan/atau budaya;
  2. identifikasi muatan lokal;
  3. perumusan kompetensi dasar untuk setiap jenis muatan lokal;
  4. penentuan tingkat satuan pendidikan yang sesuai untuk setiap kompetensi dasar;
  5. pengintegrasian kompetensi dasar ke dalam muatan pembelajaran yang relevan;
  6. penetapan muatan lokal sebagai bagian dari muatan pembelajaran atau menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri;
  7. penyusunan silabus; dan
  8. penyusunan buku teks pelajaran.

Pasal 7
  • Satuan pendidikan dapat mengajukan usulan muatan lokal berdasarkan hasil analisis konteks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a dan identifikasi muatan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b kepada pemerintah kabupaten/kota.
  • Pemerintah kabupaten/kota melakukan:
    1. analisis dan identifikasi terhadap usulan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
    2. perumusan kompetensi dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c; dan
    3. penentuan tingkat satuan pendidikan yang sesuai untuk setiap kompetensi dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d.
  • Pemerintah kabupaten/kota menetapkan muatan lokal sebagai bagian dari muatan pembelajaran atau menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri.
  • Pemerintah kabupaten/kota mengusulkan hasil penetapan muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada pemerintah provinsi.
  • Pemerintah provinsi menetapkan muatan lokal yang diusulkan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk diberlakukan di wilayahnya.
  • Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya merumuskan kompetensi dasar, penyusunan silabus, dan penyusunan buku teks pelajaran muatan lokal.
  • Dalam hal satuan pendidikan tidak mengajukan usulan muatan lokal pemerintah daerah dapat menetapkan sesuai dengan kebutuhan daerahnya.

Pasal 8
  • Muatan lokal diselenggarakan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan sumber daya pendidikan yang tersedia.
  • Dalam hal muatan lokal ditetapkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, satuan pendidikan dapat menambah beban belajar muatan lokal paling banyak 2 (dua) jam per minggu.
  • Kebutuhan sumber daya pendidikan sebagai implikasi penambahan beban belajar muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditanggung oleh pemerintah daerah yang menetapkan.

Pasal 9
Pelaksanaan muatan lokal pada satuan pendidikan perlu didukung dengan:
  1. kebijakan Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan satuan pendidikan sesuai kewenangannya; dan
  2. ketersediaan sumber daya pendidikan yang dibutuhkan.

Pasal 10
  • Pengembangan muatan lokal oleh satuan pendidikan dilakukan oleh tim pengembang Kurikulum di satuan pendidikan dengan melibatkan unsur komite sekolah/madrasah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait.
  • Pengembangan muatan lokal oleh daerah dilakukan oleh Tim Pengembang Kurikulum provinsi, Tim Pengembang Kurikulum kabupaten/kota, tim pengembang Kurikulum di satuan pendidikan, dan dapat melibatkan nara sumber serta pihak lain yang terkait.
  • Pengembangan muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengacu pada tahapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.
  • Pengembangan muatan lokal dikoordinasikan dan disupervisi oleh dinas pendidikan atau kantor kementerian agama provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 11
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, ketentuan dalam Peraturan Menteri Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum yang mengatur mengenai Muatan Lokal dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 12
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 14 Agustus 2014
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA,

TTD.

MOHAMMAD NUH

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 Agustus 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

TTD.

AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 1172
Salinan sesuai dengan aslinya.
Kepala Biro Hukum dan Organisasi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

Ani Nurdiani Azizah
NIP 195812011986032001

Catatan Sinkronisasi Server P2TK Dikdas dengan Server Dapodikdas

Berikut Catatan Sinkronisasi yang telah dilakukan oleh antara Server P2TK Dikdas dengan Server Dapodik sampai tanggal 16 Oktober 2014.
Tahap
Tgl Sinkron ke Server P2TK Dikdas Tgl Sinkron ke Server Dapodikdas
Status Proses
Awal
Akhir
1 Sep  2 2014  5:28PM 2014-08-15 2014-08-31 Selesai
2 Sep 12 2014 11:35AM 2014-09-01 2014-09-09 Selesai
3 Sep 15 2014 11:38PM 2014-09-10 2014-09-14 Selesai
4 Sep 17 2014  6:17AM 2014-09-17 2014-09-21 Selesai
5 Sep 23 2014  9:32AM 2014-09-17 2014-09-21 Selesai
6 Sep 29 2014 12:13AM 2014-09-21 2014-09-28 Selesai
7 Oct  2 2014  4:26PM 2014-09-25 2014-10-02 Selesai
8 Oct  3 2014 10:02PM 2014-10-01 2014-10-01 Selesai
9 Oct  6 2014  7:21PM 2014-10-04 2014-10-05 Selesai
10 Oct  9 2014  8:22AM 2014-10-06 2014-10-08 Selesai
11 Oct  11 2014  11.33AM 2014-10-02 2014-10-10 Selesai
12 Oct  13 2014  01.30AM 2014-10-11 2014-10-12 Selesai
13 Oct  16 2014  12.14AM 2014-10-13 2014-10-14 Running

Contoh cara membaca  :
Tahap  9 Sinkronisasi Server P2TK dilakukan pada tanggal 6 Oktober 2014, dimana data yang diambil adalah data sekolah yang melakukan sinkron pada tanggal 4 Oktober 2014 sd 5 Oktober 2014.
Nb : Untuk sekolah yang melakukan sinkronisasi  pada tanggal 2 dan 3 Oktober harap melakukan sinkronisasi ulang karena belum terbaca oleh server P2TK Dikdas. 
Catatan : Pada tahap 11 ini kami melakukan sinkronisasi ulang untuk sekolah sekolah yang melakukan sinkronisasi dari tgl 2 sd 10 Oktober 2014.
Hasil Sinkronisasi Tahap 11 baru dapat dilihat pada info PTK (LTD) mulai tanggal 12 Oktober 2014 (Setelah proses generate LTD selesai)

Kode Bidang Studi yang dapat mengajar pada Sekolah Luar Biasa

Berikut ini Kode Bidang Studi Sertifikasi yang dapat mengajar pada Satuan Pendidikan (Sekolah) Luar Biasa.
Guru Kelas :
Tahun Sertifikasi Kode Bidang Studi Nama Bidang Studi
2007 800 Guru Pendidikan Luar Biasa
2008 800 Guru Pendidikan Luar Biasa
2009 027 Guru Kelas SD/MI/SDLB
2010 027 Guru Kelas SD/MI/SDLB
2011 800 Guru Kelas SDLB
2012 800 Guru Kelas SDLB
2013 800 Guru Kelas SDLB

Guru Matapelajaran
Tahun Sertifikasi Kode Bidang Studi Nama Bidang Studi
2009 sd. 2013 217 Guru Seni Budaya SD/MI/SDLB,SMP/MTs/SMPLB;SMA/MA/SMALB;SMK/MAK

220 Guru Penjas SD/MI/SDLB,SMP/MTs/SMPLB;SMA/MA/SMALB;SMK/MAK

157 Guru Bahasa Inggris SD/MI/SDLB,SMP/MTs/SMPLB;SMA/MA/SMALB;SMK/MAK

154 Guru PKn SD/MI/SDLB,SMP/MTs/SMPLB;SMA/MA/SMALB;SMK/MAK

180 Guru Matematika SMP/MTs/SMPLB;SMA/MA/SMALB;SMK/MAK

156 Guru Matematika SMP/MTs/SMPLB;SMA/MA/SMALB;SMK/MAK

097 Guru IPA SMP/MTs/SMPLB/SMALB

100 Guru IPS SMP/MTs/SMPLB/SMALB

810 Guru Bimbingan dan Konseling SMP/MTs/SMPLB;SMA/MA/SMALB;SMK/MAK

Sumber : Buku Panduan Penetapan Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2007 sd 2013

JJM Rombel Normal dan JJM Rombel Tidak Normal Pada Sekolah Dasar

Dalam sistem validasi data dapodik oleh P2TK terdapat istilah JJM Rombel Normal dan JJM Rombel Tidak Normal, apakah artinya?
JJM Rombel adalah Jumlah Jam Mengajar mata pelajaran tertentu pada suatu rombongan belajar, yang dihitung berdasarkan data yang diiput oleh operator dapodik sekolah. JJM Rombel dikatakan normal apabila total JJM mapel tertentu yang diberikan pada suatu rombel tidak melebihi yang sudah ditentukan dalam Kurikulum.
Ketentuan Umum mengenai JJM Normal adalah sbb :
  1. Jumlah (aggregate) JJM suatu pelajaran tidak boleh lebih dari ketentuan (lihat struktur KTSP dan K-13)
  2. Tidak diperbolehkan mengurangi JJM suatu mapel untuk ditambahkan kepada mapel lain
Continue reading →

Senin, 17 November 2014

PENGARUH STACK TERHADAP FREKUENSI RESONANSI DALAM TABUNG RESONATOR TERMOAKUSTIK RAMAH LINGKUNGAN

Klasifikasi
Penulis Affandi Faisal Kurniawan,S.Si,M.Sc; Choirul Huda,S.Si.,S.Pd.,M.Ed; Sigit Ristanto, ST., M.Sc.
Pembimbing
Abstrak Penelitian ini adalah salah satu tahap dalam upaya pengembangan pendingin berbasis termoakustik. Kelebihan dari pendingin termoakustik dibanding pendingin yang sudah ada yaitu lebih ramah lingkungan. Oleh karena teknologi pendinginan yang ada sekarang ikut menyumbang terjadinya pemanasan global, para ahli lingkungan menyarankan perlunya mencari alternatif teknologi baru dalam pendinginan yang lebih ramah lingkungan. Salah satu kandidatnya adalah teknologi pendinginan berbasis termoakustik. Untuk mengembangkan pendingin termoakustik perlu mengoptimasi berbagai komponen penyusun alat, salah satunya adalah stack. Penelitian ini merupakan salah satu usaha mengoptimalkan kinerja stack.Dengan mengetahui pengaruh stack terhadap frekuensi resonansi maka akan sangat membantu dalam perancangan stack yang lebih optimal. Hasil penelitian menunjukkan Variasi panjang stack tidak berpengaruh terhadap frekuensi resonansi. Akan tetapi berpengaruh pada amplitudo maksimum pada masing-masing frekuensi resonansi. Semakin panjang stack amplitudo maksimum frekuensi resonansi semakin turun. Sedangkan variasi bahan stack berpengaruh terhadap frekuensi resonansi. Sementara itu, variasi posisi stack tidak berpengaruh terhadap frekuensi resonansi. Akan tetapi berpengaruh terhadap amplitudo maksimum pada masing-masing frekuensi resonansi. Amplitudo maksimum Frekuensi resonansi terendah terjadi di tengah-tengah tabung resonator sedangkan amplitudo frekuensi resonansi terbesar terjadi pada ujung terjauh dari sumber bunyi. Kata kunci: pendingin termoakustik, stack, frekuensi resonansi
Abstrak (Inggris)
Abstrak File tidak ada abstraksi versi PDF
Full Text tidak ada fulltext versi PDF

ABSTRAK PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR TEMATIK INTEGRATIF TEMA MAKANANKU SEHAT DAN BERGIZI KELAS IV SD NEGERI SAMBIROTO KECAMATAN GAJAH KABUPATEN DEMAK

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR TEMATIK INTEGRATIF TEMA MAKANANKU SEHAT DAN BERGIZI KELAS IV SD NEGERI SAMBIROTO KECAMATAN GAJAH KABUPATEN DEMAK

Klasifikasi
Penulis MULYO KURNIAWAN
Pembimbing Drs. Ben Suharno, S.H., M.Si
Abstrak Mulyo Kurniawan, NPM 10120280. “Penggunaan Model Pembelajaran Make A Match terhadap hasil belajar tematik integratif Tema Makananku Sehat dan Bergizi siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kecamatan Gajah Kabupaten Demak”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas PGRI Semarang. 2014. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajaran yang terpusat pada guru dan penyampaian pada kegiatan pembelajaran yang masih menggunanakan metode ceramah sedangkan peserta didik cenderung lebih pasif dan belum berperan aktif pada kegiatan belajar mengajar berlangsung sehingga aktivitas belajar peserta didik rendah. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah apakah dengan menggunakan Model Pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar tematik integratif Tema Makananku Sehat dan Bergizi siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kecamatan Gajah Kabupaten Demak. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan menggunakan Model Pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar tematik integratif Tema Makananku Sehat dan Bergizi siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kecamatan Gajah Kabupaten Demak. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IVA dan siswa kelas IVB SD Negeri Sambiroto Kecamatan Gajah Kabupaten Demak. Sampel yang diambil siswa dari kelas IVA sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas IVB sebagai kelas kontrol dengan teknik sampling cluster random sampling. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui tes, observasi serta dokumentasi. Design penelitian ini menggunakan pretest-postes control group design. Berdasarkan data hasil penelitian diperoleh rata-rata kelompok eksperimen ̅ = 80,33 dan rata-rata kelompok kontrol ̅ = 72,8 dengan n1 = 30 n2 = 30 diperoleh thitung = 3,24 Dengan α = 5% dengan dk = 30 + 30 – 2 = 58 diperoleh t(0,975) (58) = 2,02. Karena thitung> ttabel yaitu (3,24 > 2,02) maka H0 ditolak sehingga ada perbedaan ratarata hasil belajar tematik integratif tema makananku sehat dan bergizi siswa kelas IV yang mendapat pembelajaran dengan dengan menggunakan pembelajaran model make a match dengan siswa kelas IV yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan model konvensional. Oleh karena itu, dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD N Sambiroto Kecamatan Gajah Kabupaten Demak. Setelah melakukan penelitian ini, peneliti memberikan saran antara lain sebagai berikut : guru sebaiknya dapat mengondisikan dan mengarahkan siswa ketika pelaksanaan pembelajaran dengan metode make a match agar seluruh siswa dapat berperan aktif dalam diskusi ketika mencari pasangan kartu soal dan jawaban dan guru harus merancang program pembelajan dengan baik ketika pelaksanaan pembelajaran dengan metode make a match agar pembelajaran tidak menyita banyak waktu.
Abstrak (Inggris)
Abstrak File tidak ada abstraksi versi PDF
Full Text tidak ada fulltext versi PDF

Minggu, 16 November 2014

LANGKAH – LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH

 

LANGKAH – LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH

 

TAHAP PERSIAPAN
I. PERSIAPAN PENULISAN KARYA ILMIAH
A.    LANGKAH-LANGKAH PERSIAPAN PENULISAN KARYA ILMIAH
Pada dasarnya, hal terpenting yang harus dipikirkan oleh seorang penulis karya ilmiah pada tahap persiapan ini adalah Pemilihan Topik. Yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan topik adalah :
  1. Pemilihan Topik/ Masalah untuk Karya Ilmiah
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan topik untuk karya ilmiah. Dalam penulisannya harus mengikuti kaidah kebenaran isi, metode kajian, serta tata cara penulisannya yang bersifat keilmuan. Salah satu cara untuk memenuhi kaidah tersebut adalah dengan melakukan pemilihan topik yang jelas dan spesifik. Pemilihan unuk kerya tulis ilmiah dapat dilakukan dengan cara;
  1. Merumuskan tujuan
Rumusan tujuan yang jelas dan tepat menjadi sangat penting untuk dapat menghasilkan karya tulis ilmiah yang terfokus bahasannya. Tips yang dapat dilakukan untuk merumuskan tujuan diantaranya;
1)    Usahakan merumuskan tujuan dalam satu kalimat yang sederhana;
2)   Ajukan pertanyaan dengan menggunakan salah satu kata tanya terhadap rumusan yang kita buat;
3)   Jika kita dapat menjawab dengan pasti pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan, berarti rumusan tujuan yang kita buat sudah cukup jelas dan tepat.
b.    Menentukan Topik
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menentukan topik adalah menentukan ide-ide utama. Kemudian uji dan tanya pada diri sendiri apakah ide-ide itu yang akan kita tulis.
c.    Menelusuri Topik
Bila topik telah ditentukan, kita masih harus memfokuskan topik tersebut agar dalam penulisannya tepat sasaran. Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam memfokuskan topik;
1)    Fokuskan topik agar mudah dikelola;
2)    Ajukan pertanyaan

  1. Mengidentifikasi Pembaca Karya Ilmiah
Kewajiban seorang penulis karya ilmiah adalah memuaskan kebutuhan pembacanya akan informasi, yaitu dengan cara menyampaikan pesan yang ditulisnya agar mudah dipahami oleh pembacanya. Sebelum menulis, kita harus mengidentifikasi siapa kira-kira yang akan membaca tulisan kita. Hal tersebut perlu dipertimbangkan pada saat kita menulis karya tulis ilmiah agar tulisan kita tepat sasaran.

  1. Menentukan Cakupan Isi Materi Karya Ilmiah
Cakupan materi adalah jenis dan jumlah informasi yang akan disajikan di dalam tulisan.

II. PENGUMPULAN INFORMASI UNTUK PENULISAN KARYA ILMIAH
A.    MEMANFAATKAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER DATA, INFORMASI, DAN BAHAN UNTUK TULISAN
Perpustakaan pada umumnya menyediakan berbagai koleksi data atau informasi yang terekam dalam berbagai bentuk media, seperti media cetak dan media audiovisual. Hal pertama yang harus kita lakukan pada saat memasuki perpustakaan adalah memahami di mana letak sumber informasi yang dibutuhkan berada. Salah satu tempat yang patut kita tuju adalah bagian referensi. Bagian referensi ini biasannya berisi koleksi tentang encyclopedia, indeks, bibliografi, atlas dan kamus.
1.    Mencari Buku dengan Online Catalog dan Card Catalog
Pencarian buku dengan cara Online Catalog biasanya menggunakan terminal komputer. Kita dapat mencari buku dengan judul dan nama penulis yang jelas atau minta kepada komputer untuk mencarikan file-file yang berkaitan dengan topik yang sedang kita tulis.
Selain menggunakan komputer, kita juga dapat menggunakan Card Catalog untuk mencari buku atau artikel yang kita butuhkan. Pada umumnya, buku koleksi perpustakaan didata dalam 3 (tiga) jenis kartu katalog, yaitu katalog yang berisi data tentang pengarang/ penulis, judul buku dan subjek/ topik tertentu.
2.    Memeriksa Bahan-Bahan Pustaka yang Telah Diperoleh
Setelah bahan pustaka terkumpul kita harus memeriksa bahan-bahan tersebut apakah sesuai atau tidak dengan topik yang kita tulis. Cara memeriksa bahan pustaka tersebut adalah;
a.    Atur waktu membaca
b.    Bacalah secara selektif
c.    Bacalah secara bertanggung jawab
d.    Bacalah secara kritis
3.    Membuat Catatan dari Bahan-bahan Pustaka
Salah satu cara terbaik dan paling sederhana dalam membuat catatan ini adalah selalu mengacu pada kartu indeks yang telah kita buat.

4.    Membuat Ringkasan dan ‘Paraphrasing’
Disamping membuat catatan, kita pun dapat membuat ringkasan atau paraphrasing dari sumber  bacaan yang kita dapatkan di dalam menunjang keberhasilan proyek tulisan kita.

5.    Membuat Kutipan
Kita harus mengutip dengan persis dan apa adanya pernyataan dari sumber bacaan yang kita gunakan jika pernyataan tersebut merupakan pandangan mendasar dari penulis dan jika kita ubah ke dalam bahasa kita sendiri akan mengaburkan arti sesungguhnya.

B.    MELAKUKAN WAWANCARA UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI UNTUK TULISAN
Ada empat hal yang harus diperhatikan pada saat akan melakukan wawancara untuk keperluan proyek penulisan karya ilmiah, yaitu;
1.    Menentukan orang yang tepat untuk diwawancarai
2.    Mempersiapkan pedoman wawancara
3.    Melaksanakan wawancara
4.    Mengolah hasil wawancara


TAHAP PROSES PENULISAN
Tahap Penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai.
  • Tahap Pra Penulisan
1.  Pemilihan dan pembatasan topik
2.  Merumuskan tujuan
3.  Mempertimbangkan bentuk karangan
4.  Mempertimbangkan pembaca
5.  Mengumpulkan data pendukung
6.  Merumuskan judul
7.  Merumuskan tesis
8.  Penyusunan ide dalam bentuk karangan atau outline

  • Pemilihan Topik
# Apa yang akan kita tulis?
#  Topik dapat diperoleh dari berbagai sumber.
#  Empat syarat: keterkuasaian, ketersediaan bahan, kemenarikan, kemanfaatan.
#  Agar lebih fokus, topik perlu dibatasi.

  • Tahap Penulisan Draf
-          Mengekspresikan ide-ide ke dalam tulisan kasar.
-          Pengembangan ide masih bersifat tentatif.
-          Pada tahap ini, konsentrasikan perhatian pada ekspresi/gagasan, bukan pada aspek-aspek  mekanik.

  • Tahap Revisi
-          Memperbaiki ide-ide dalam karangan, berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, penataan isi sesuai dengan kebutuhan pembaca.
-          Kegiatan: (a) membaca ulang seluruh draf, (b) sharing atau berbagi pengalaman tentang draf kasar karangan dengan teman, (c) merevisi dengan memperhatikan reaksi, komentar/masukan.

  • Tahap Penyuntingan
-          Memperbaiki perubahan-perubahan aspek mekanik karangan.
-          Memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan kesalahan mekanik yang lain.
-          Aspek mekanik antara lain: huruf kapital, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah, kosakata, format karangan.

  • Tahap Publikasi
-          Tulisan akan berarti dan lebih bermanfaat jika dibaca orang lain.
-          Sesuaikan tulisan dengan media publikasi yang akan kita tuju.
TAHAP EVALUASI
Tahap terakhir yaitu verifikasi atau evaluasi, apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata atau kalimat yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya.
Ada lima kriteria yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi setiap bagian dari menulis sebagai berikut :

Fokus.
Apa yang Anda menulis tentang? Apa klaim atau tesis Anda membela? Kriteria ini adalah yang luas, berkaitan dengan konteks, tujuan, dan koherensi dari sepotong tulisan. Apakah topik Anda sesuai untuk tugas? Apakah Anda tetap pada topik itu atau terlena pada garis singgung tidak membantu? Apakah Anda berfokus terlalu teliti atau terlalu banyak? Misalnya, esai tentang Perang Saudara Amerika pada umumnya mungkin terlalu luas untuk esai perguruan tinggi yang paling. Anda mungkin akan lebih baik menulis tentang pertempuran tertentu, umum, atau kejadian.

Pembangunan.
Pembangunan berkaitan dengan rincian dan bukti. Apakah Anda menyediakan cukup bahan pendukung untuk memenuhi harapan pembaca Anda? Sebuah laporan penelitian yang tepat, misalnya, biasanya mencakup banyak referensi dan kutipan untuk banyak karya lain yang relevan beasiswa. Sebuah deskripsi lukisan mungkin akan mencakup rincian tentang, komposisi penampilan, dan bahkan mungkin informasi biografis tentang seniman yang melukisnya. Memutuskan apa rincian untuk menyertakan tergantung pada penonton dimaksudkan sepotong. Sebuah artikel tentang kanker ditujukan untuk anak-anak akan terlihat sangat berbeda dari satu ditulis untuk warga senior.

Organisasi
Organisasi, sering disebut “pengaturan,” menyangkut ketertiban dan tata letak kertas. Secara tradisional, kertas dibagi menjadi, tubuh kesimpulan pengenalan, dan. Paragraf terfokus pada gagasan utama tunggal atau topik (kesatuan), dan transisi di antara kalimat dan paragraf yang halus dan logis. Sebuah rambles kertas kurang terorganisir, melayang di antara topik yang tidak berhubungan dengan cara serampangan dan membingungkan.

Gaya
Gaya secara tradisional berkaitan dengan kejelasan, keanggunan presisi, dan. Sebuah stylist yang efektif tidak hanya mampu menulis dengan jelas untuk penonton, tetapi juga bisa menyenangkan mereka dengan bahasa menggugah, metafora, irama, atau kiasan. Penata Efektif bersusah payah tidak hanya untuk membuat titik, namun untuk membuatnya dengan baik.

Konvensi
Kriteria ini meliputi tata bahasa, mekanik, tanda baca, format, dan isu-isu lain yang ditentukan oleh konvensi atau aturan. Meskipun banyak siswa berjuang dengan konvensi, pengetahuan tentang di mana untuk menempatkan koma dalam sebuah kalimat biasanya tidak sepenting apakah kalimat yang berharga untuk menulis di tempat pertama. Namun demikian, kesalahan yang berlebihan dapat membuat bahkan seorang penulis brilian tampak ceroboh atau bodoh, kualitas yang jarang akan terkesan pembaca seseorang.

Permainan Tradisional

 

 Tata Cara Permainan Dakon

Pembuka
Dakon utawa congklak, kuwi dolanan sing nganggo piranti kayu dilegoki pitung legokan, rong larik, terus ing pucuk kiwa tengen ana legokan gedhé (lumbung) loro. Sak liyané kuwi, butuh kecik cacahé 7 x 7 x 2 = 98.
Tata Cara Permainan Dakon
1. Legokan cilik diisi kecik pitu-pitu
2. Giliran sing mlaku dhisik diundhi nganggo sut
3. Carane mlaku, sing oleh giliran milih salah siji legokan sisih ngarepe, kecik sing ning kono dijupuk, terus ditibakke siji-siji ning legokan wiwit sisih tengene. Sak teruse legokan tengen diisi, ugo lumbung sisih tengen. Yen kecike isih turah, diteruske muter ning legokan musuhe.
4. Yen kecik paling pungkasan enteke pas ning lumbung, giliran diteruske nganggo cara ndhuwur.
5. Yen kecik paling pungkasan enteke pas ning legokan sing kosong, giliran mandheg, ganti musuhe.
6. Yen legokan sabrange ono isine, kabeh dipindhah ning lumbunge dhewe.
Lah nek neng yogjo carane awitan kok bedho yo?? neng yogjo wiwit bareng,seko sisih kiwo dhewe,mlaku bareng ngati sopo sing kecik e entek disik lan mandeng neng legokan sing kosong.
(durung tutug)
Congklak
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Congkak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.
Nama congkak di berbagai daerah
Di Malaysia permainan ini lebih dikenal dengan nama congkak dan istilah ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan kebudayaan Melayu. Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congkak, dakon, dhakon atau dhakonan. Selain itu di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini disebut Mancala.
Permainan congkak
Permainan congkak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congkak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congkak atau buah congkak. Umumnya papan congkak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congkak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.
Meredupnya popularitas permainan tradisional biasanya dibarengi dengan merosotnya pamor dan keberadaan permainan itu. Tapi tidak demikian halnya dengan congklak atau dakon. Dolanan yang jadi kegemaran anak-anak perempuan ini, kini justru naek pangkat menjadi benda koleksi pendukung interior.
Di tangan para pengrajin dan eksportir furnitur, papan mainan dakon ini diubah menjadi karya seni dengan ukiran yang unik. Bagian ujung dan pangkal biasanya dibuat ukiran kepala binatang seperti naga dan angsa. Pada bagian bawah, juga ditambahkan kaki-kaki binatang tersebut. Harganya? Hhmmm….bisa 100 kali lipat dari harga papan dakon tradisional, lho.
Dhakon/Congklak
Dhakon, media yang terdiri dari kurva berjajar (sawah) dengan jumlah tertentu dan di masing-masing ujungnya terdapat lubang besar (lumbung). Untuk memainkan diperlukan biji asam (klungsu), biji sawo (kecik) atau kerikil/batu kecil. Jumlah biji sesuai dengan jumlah sawah, misalnya terdapat 7 pasang sawah, maka kecik berjumlah 7 x 7 x 2 = 98 buah. Setelah lubang dhakon kedua belah pihak diisi oleh biji, dan mulai mengecerkan biji dalam satu sawah ke sawah lain secara memutar. Proses tersebut terus berlangsung hingga biji terajgir menemukan sawah kosong miliknya, dan bisa mengambil semua biji di sawah seberangnya. Demikianlah pemain menjalankan bijinya bergantian sampai habis dan pemenang adalah yang lumbungnya paling banyak